Susi: Potensi Bisnis Perikanan di 1 Pulau Terluar Rp 2,24 T/Tahun

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak dan memprioritaskan para pengusaha Jepang untuk bersama-sama membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di 6 pulau terluar Indonesia. Untuk membangun satu SKPT kira-kira dibutuhkan USD 20 juta atau sekitar Rp 280 miliar (kurs Rp 14.000). Tapi setiap tahun diperkirakan mendulang pendapatan USD 160 juta (Rp 2,24 triliun).

“It’s very good business,” kata Susi di sela-sela one on one meeting dengan beberapa pengusaha Jepang di Hotel Imperial, Tokyo, Kamis (31/5) lalu.

Para pengusaha dan lembaga yang melakukan one on one meeting dengan Susi adalah Hideyuki Nakatani (Presiden Nakatani Shouten Co, Ltd), Tadatoshi Oshima (President Oshima Fisheries Co Ltd), Kentaro Narumi (CEO & President FTI Japan Co Ltd), Koji Yamazaki (Chief Operating Officer Marubeni Corporation), dan Masami Sueta (Deputy Chief Operating Officer Itochu Corporation).

Saat menerima para pengusaha itu, Susi didampingi Rachmat Gobel (Utusan Khusus Presiden RI untuk Jepang), Arifin Tasrif (Dubes RI untuk Jepang), Nilanto Perbowo (Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan/KKP), Brahmantya Satyamurti Poerwadi (Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP), Risyanto Suanda (Dirut PT Perindo/Perikanan Indonesia) dan Dendi Anggi Gumilang (Dirut PT Perinus/Perikanan Nusantara).

Menurut Susi, hitung-hitungan kasar, untuk membangun 1 SKPT dibutuhkan biaya USD 20 juta, sehingga kalau membangun 6 SKPT, total biaya yang dibutuhkan adalah USD 120 juta (sekitar Rp 1,68 triliun). “Potensi bisnis di setiap SKPT, sekitar USD 160 juta (Rp 2,24 triliun),” kata Susi.

Karena itu, Susi menganjurkan para pengusaha Jepang bisa membentuk konsorsium untuk turut serta membangun dan mengembangkan SKPT ini. Adapun keenam pulau terluar yang dimaksud, yaitu Sabang (Aceh), Natuna (Kepulauan Riau), Morotai (Maluku Utara), Saumlaki (Maluku), Moa (Maluku), dan Biak Numfor (Papua).
Keenam pulau terluar Indonesia ini, sekarang memang menjadi sentra komoditas produk perikanan dan kelautan. Namun, banyak potensi perikanan di 6 pulau itu yang masih belum tergali dengan maksimal.
Berikut data 6 pulau terluar saat ini:

SABANG
Komoditas:
– Tuna 210 ton/tahun (harga tuna Rp 40.000/kg)
– Cakalang 494/tahun (harga Cakalang: Rp 25.000/kg)
– Tongkol 1.073 ton/tahun (harga Tongkol: Rp 20.000/kg)
Jumlah nelayan: 6.060 jiwa
Armada penangkap ikan: 657 unit
Alat pancing: 639 unit
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Medan, China, Phuket (Thailand), Hong Kong, Penang (Malaysia)

NATUNA
Komoditas:
– Tuna: 5.568 ton/tahun
– Cakalang: 2.876 ton/tahun
– Tongkol: 852 ton/tahun
– Pelagis kecil: 12.424 ton/tahun
– Pelagis besar: 238 ton/tahun
Jumlah nelayan: 14.124 jiwa
Armada penangkap ikan: 4.275 unit
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Jakarta dan Hong Kong

MOROTAI
Komoditas:
– Tuna
– Cakalang
– Tongkol
(Total: 6.272 ton/tahun)
Jumlah nelayan: 3.756 jiwa
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Filipina (Palau dan Davao), Jepang, Taiwan, Tiongkok, Hong Kong

SAUMLAKI
Komoditas:
– Tuna: 2.510 ton/tahun
– Cakalang: 1.583 ton/tahun
– Tongkol: 795 ton/tahun
– Pelagis kecil: 3.664 ton/tahun
– Pelagis besar: 433 ton/tahun
Jumlah nelayan: 10.536 jiwa
Armada penangkap ikan: 9.661 unit
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Surabaya, Bali, Ambon, Dobo, dan Darwin (Australia).

MOA
Komoditas:
– Pelagis besar: 528,42 ton/tahun
– Pelagis kecil: 1.036 ton/tahun
– Demersal: 975,45 ton/tahun
– Ikan karang: 50,4 ton/tahun
– Lobster: 1,5 ton/tahun
Jumlah nelayan: 666 jiwa
Armada penangkap ikan: 42 unit
Alat tangkap: 277 unit
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Masela, Darwin (Australia), dan Jepang

BIAK NUMFOR
Komoditas:
– Pelagis besar: 12.250 ton/tahun
– Pelagis kecil: 11.878 ton/tahun
– Ikan demersal: 6.199 ton/tahun
– Ikan karang: 937 ton/tahun
Armada penangkap ikan: 6.569 unit
Geografis: sangat strategis untuk mengangkut produk perikanan ke Merauke, Makassar, Palau (Filipina), Hawaii
Lokasi SKPT

Saat ini KKP sudah menggandeng JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk membuat studi kelayakan (feasibility study) pembangunan SKPT di enam pulau terluar tersebut. SKPT ini terdiri dari antara lain pelabuhan ikan terintegrasi, pasar, tempat pelelangan ikan (TPI), cold storage, SPBU, dan sarana prasarana penunjung lain.
KKP sebenarnya sudah dan sedang merenovasi pelabuhan-pelabuhan ikan yang ada di 6 pulau terluar itu untuk menjadi SKPT. Kondisi saat ini sudah lebih baik dibanding sebelumnya. Saat ini diperlukan investasi dari para pengusaha Jepang untuk mengembangkan SKPT, sehingga proses bisnis perikanan dan kelautan bisa berjalan efisien dan efektif, terutama untuk tujuan ekspor.

Pengembangan SKPT bisa berupa pembuatan landasan pesawat dan penyediaan pesawat untuk mengangkut produk kelautan dan perikanan ke tujuan ekspor. Selama ini persoalan transportasi di 6 pulau terluar ini masih menjadi masalah, sehingga pengangkutan produk kelautan dan perikanan dari lokasi ini tidak efisien, karena tidak ada jalur udara. Padahal, 6 pulau ini sangat dekat dengan negara-negara tujuan ekspor.
Selain itu, pengembangan SKPT juga bisa dengan pengembangan pabrik-pabrik pengolahan ikan maupun pengalengan ikan. “Untuk produk perikanan ke Timur Tengah misalnya, saat ini China mulai masuk membangun pabrik di Indonesia, karena Timur Tengah lebih bisa menerima produk dari Indonesia, karena ada label halal-nya. Karena itu, pengusaha Jepang, jangan sampai ketinggalan,” pinta Susi.
Susi Pudjiastuti

Potensi bisnis lain, lanjut Susi, adalah membangun pabrik es. Dalam desain KKP, setiap 30 kilometer (km) garis pantai akan ada mesin es kapasitas 1,5 ton/hari, setiap 100 km ada mesin es berkapasitas 10 ton/hari, dan setiap 300 km ada cold storage dengan kapasitas 5000 ton/hari.

“Jadi kalau garis pantai kita 90.000 km, maka dibutuhkan 3.000 mesin es berkapasitas 1,5 ton. Kalau satu mesin es 1,5 ton biayanya US 20.000, maka total membutuhkan biaya USD 60 juta atau sekitar Rp 840 miliar. Ini good business. Ini baru dari cold storage berkapasitas 1,5 ton,” kata Susi.

Susi menegaskan pemerintah membuka seluas-luasnya investasi asing untuk industri pengolahan dan industri penunjang-penunjang lain terkait produk kelautan dan perikanan. “Yang asing tidak boleh masuk adalah penangkapan ikan dan produk kelautan lainnya. Biarlah yang menangkap nelayan-nelayan Indonesia. Tapi, kalau pengolahan, silakan asing masuk. Bahkan 100% juga boleh. Saya akan bantu,” kata Susi.

Untuk investasi pengembangan SKPT di 6 pulau terluar, Susi sudah berjanji memprioritaskan para pengusaha dari Jepang. Sebab, hingga saat ini Jepang merupakan negara pengimpor hasil perikanan dan laut terbesar di dunia dengan nilai sekitar USD 10 miliar (data tahun 2016).

Susi juga menegaskan pembangunan 6 SKPT ini juga akan menyerap banyak tenaga kerja, sehingga warga lokal juga bisa menikmati pengembangan industri ini. “Penyerapan tenaga kerja bisa sekitar 20.000 orang,” ujar Susi.

Sumber : https://kumparan.com/@kumparanbisnis/susi-potensi-bisnis-perikanan-di-1-pulau-terluar-rp-2-24-t-tahun

Leave a Comment

%d bloggers like this: