Sertifikasi Profesi Tingkatkan Daya Saing Pekerja Hadapi Industri 4.0 dan MEA

JAKARTA- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, pencanangan Industry 4.0 harus disikapi positif oleh para pekerja Indonesia. Dunia industri wajib berbenah dan meningkatkan kapasitasnya agar tetap eksis dan mampu bersaing. Salah satu komponen penting yang juga harus dibenahi dalam revolusi industri adalah kapasitas para pekerjanya.

Pembenahan kapasitas pekerja dimulai dari sertifikasi profesi yang mampu menambah daya saing tenaga kerja. Dalam menghadapi era Industry 4.0 dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sertifikasi profesi seakan sudah menjadi kewajiban dalam menambah nilai jual tenaga kerja.

Selain itu, terintegrasinya Indonesia dengan MEA adalah momentum yang tepat untuk membangun kompetensi. Sebagaimana tercantum di dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA), ada delapan profesi yang masuk dalam kebijakan pasar bebas. Delapan profesi tersebut adalah dokter, dokter gigi, perawat, surveyor, tenaga pariwisata, insinyur, arsitek dan akuntan.

“Setiap profesi tersebut sudah menetapkan standar dan kompetensi yang sudah disepakati ASEAN. Sertifikasi menjadi salah satu cara untuk memperkaya kapasitas, membangun karir profesional dan mengendalikan mutu. Sertifikasi menjadikan seseorang memiliki nilai tambah sehingga bisa bersaing dengan tenaga kerja negara lain,” ujar Imelda dalam siaran persnya.

Lebih lanjut, Imelda menerangkan, sertifikasi adalah acuan untuk meningkatkan kompetensi dan standar yang sudah diakui oleh lembaga terkait, salah satunya adalah Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). LSP adalah lembaga pelaksanaan kegiatan sertifikasi profesi. Lembaga yang memiliki lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ini memenuhi syarat untuk melakukan kegiatan sertifikasi profesi di tingkat nasional yang berkedudukan di wilayah Republik Indonesia.

Kehadiran Balai Latihan Kerja (BLK) juga bisa menambah kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk menambah nilai tambah dalam persaingan kerja. Program-program pelatihan yang ada di BLK, lanjut Imelda, sebaiknya mulai diarahkan pada kebutuhan pasar dan industri. Dengan demikian, BLK bisa berfungsi menjawab kebutuhan pasar dan industri akan tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan keahlian yang sudah terbukti.

Terdapat 12 sektor prioritas dalam konteks MEA. Sektor-sektor tersebut adalah produk berbasis agro, produk berbasis karet, produk berbasis kayu, e-ASEAN, kesehatan, transportasi udara, elektronika, pariwisata, tekstil dan produk tekstil, perikanan dan produk perikanan, otomotif dan jasa logistik.

Dunia pendidikan pun harus ikut serta dalam mempersiapkan para siswa menghadapi Industri 4.0 ini. Kurikulum yang dirancang hendaknya juga mengandung pembelajaran dan pengetahuan terkait dunia industri dan juga bidang-bidangnya secara spesifik. Program praktek kerja yang dilakukan oleh para siswa, khususnya siswa sekolah kejuruan, harus dijadikan sarana efektif untuk terjun langsung dalam pekerjaan industri.

 

Sumber : http://industri.bisnis.com/read/20180426/12/788931/sertifikasi-profesi-tingkatkan-daya-saing-pekerja-hadapi-industri-4.0-dan-mea

Leave a Comment

%d bloggers like this: