OJK Minta Perbankan Mudahkan Nelayan Akses Permodalan

Makassar – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2017, jumlah KUR yang disalurkan khusus sektor perikanan sekitar Rp 136,7 miliar. Dengan jumlah debitur 6.729. Jumlah ini terbilang masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah nelayan di Sulawesi Selatan yang diperkirakan mencapai 60 ribu orang. Salah satu upaya yang ditempuh agar modal bank bisa sampai ke nelayan adalah dengan klaster. “Seperti di Boddia, Kabupaten Takalar,” kata Zulmi, kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua saat merilis kinerja perbankan di Sulawesi Selatan, Rabu 4 April 2018. Zulmi mengatakan, sekitar 277 nelayan pencari telur ikan terbang di Takalar dibuatkan pola inti plasma. Nelayan yang mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp 50 juta diarahkan untuk menjual hasil tangkapannya ke perusahaan yang sudah bekerjasama dengan bank pemberi modal. “Hasil penjualan nelayan akan dipotong untuk membayar utang di bank,” katanya. Sistem ini, kata Zulmi, terbukti berhasil. Nelayan bisa melaut dan kredit macet nelayan yang masuk dalam pola intiplasma hampir nol persen. “Model seperti ini akan dikloning ke tempat lain,” katanya.

Zulmi kembali mengingatkan, perbankan tidak terlalu khawatir dalam menyalurkan modal ke nelayan. Sebab persoalan agunan yang kerap menjadi masalah, bisa diantisipasi dengan memanfaatkan asuransi nelayan. Sebanyak 47.755 nelayan di Sulawesi Selatan sudah punya asuransi kecelakaan. Preminya dibayarkan pemerintah. Jika ada nelayan yang mengalami musibah saat melaut, perusahaan asuransi bisa membayar klaim sampai Rp 200 juta. “Dengan asuransi, keamanan uang untuk kembali sudah ada,” katanya. Putut Putranto Transaction and Consumer Head Bank Mandiri mengungkapkan, Mandiri tidak terlalu banyak bersentuhan langsung dengan nelayan. Tapi banyak bantuan modal untuk nelayan disalurkan lewat koperasi atau lembaga keuangan mikro lainnya. “Jadi kami bekerjasama dengan koperasi, nanti koperasi yang salurkan ke nelayan,” kata Putut. Anggota Ikatan Alumni Perikanan Unhas Ziaul Haq Nawawi mengungkapkan, defenisi agunan yang diterapkan perbankan kepada nelayan sangat ketat. Sehingga perlu dibedakan agunan untuk nasabah umum dan nasabah khusus nelayan. Utamanya nelayan kecil. Nelayan sulit mendapatkan modal karena dianggap masuk pekerjaan paling beresiko dan penuh dengan ketidakpastian. “Apalagi kalau datang musim paceklik,” kata Ziaul.

Menurutnya, nelayan tidak sepenuhnya butuh modal. “Nelayan juga butuh lembaga yang bisa mengajarkan cara mengelola keuangan dan cara menabung,” kata Ziaul. Literasi keuangan bagi nelayan perlu digiatkan karena nelayan sudah menikmati banyak model bantuan keuangan. Dari zaman minapolitan, seed fund coremap, LKM, dan lainnya. “Semua jalan di tempat,” ungkap Ziaul. “Jangan sampai niat membantu nelayan tapi malah menggantung leher nelayan,” tambahnya.

Sumber Artikel : https://makassar.terkini.id/ojk-minta-perbankan-mudahkan-nelayan-akses-permodalan/

Leave a Comment