Saat berkunjung ke Silicon Valley, AS, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa Indonesia adalah energi digital Asia. Pernyataan tersebut tentu bukan tanpa alasan mengingat jumlah usia produktif yang sangat besar, potensi ekonomi digital Indonesia menjadi amat menjanjikan.

Indonesia secara sempurna telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), di mana tantangan dan peluang entrepreneurial semakin terbuka lebar. Untuk memenangkan kompetisi, Indonesia harus bergerak melahirkan netpreneur; entrepreneur dengan kompetensi digital.

Buku Digital ChampionShift ini menawarkan konsep strategis bagi pelaku UKM untuk memenangkan kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu kuncinya, melakukan perpindahan (shifting) secara sempurna dari bisnis konvensional ke digital.

Jangan sampai di era MEA pelaku usaha dan UKM justru menjadi penonton masuknya pelaku-pelaku bisnis dari negara ASEAN lainnya. Indonesia sudah memiliki modal human resource yang sangat besar, generasi muda usia produktif (millennials) yang mencapai 33 persen dari total penduduk saat ini.

Ada lima konsep penting yang dapat membantu UKM mempersiapkan diri menghadapi kompetisi MEA dan meningkatkan daya saing bisnisnya. Costumer Value, pelaku UKM menciptakan high value solutions bagi konsumen. Human Champion, cara UKM unggul dari sisi SDM.

Alliance & Partnership, UKM membangun kemitraan strategis dengan seluruh stake holder. Market Expansion, memperluas pangsa pasar bagi 650 juta konsumen se-ASEAN. Product Leadership, produksi barang dan jasa yang unggul dibanding pesaing (hal 257).

Besarnya pasar ASEAN akan digerakkan konektivitas, jaringan dan platform berbasis aplikasi baik retail, berita, hiburan, perbankan, pendidikan, pemerintahan, maupun komunikasi. Pemain terbesarnya adalah para millennials yang memang telah terbiasa dengan teknologi digital transformatif (hal 192).

Perjanjian pasar bebas ASEAN menjadi sebuah peluang besar bagi pelaku UKM dan industri kreatif di Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan ekspansi horizontal, termasuk pemanfaatan teknologi digital. Revolusi digital telah membawa perubahan yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, terlebih pada sektor bisnis, industri kreatif dan pariwisata Indonesia.

Maka meningkatkan digital literacy kepada para pelaku usaha dan UKM untuk memaksimalkan kompetensi dan peluang bisnisnya menjadi sangat penting. Hari ini masih tidak mudah. Boleh survei, dari 100 pelaku UKM, maksimal hanya empat yang menerapkan model bisnis digital penuh (hal 186).

UKM memang tidak perlu 100 persen hijrah ke sistem online. Namun, pelaku UKM harus mengadopsi teknologi digital dalam proses bisnis, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing.

Di zaman digital sekarang, pemanfaatan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line, dan lain-lain guna memperkenalkan produk atau merek menjadi lebih cepat dan efektif. Strategi lainnya jasa online commerce, penyedia market place gratis sudah banyak. Contoh sudah banyak. Community forum juga sangat efektif. Pertempuran di era pasar bebas mustahil dimenangkan bila para pelaku bisnis bergerak sendiri-sendiri dan sporadis (hal 243).

Dari sisi potensi, Indonesia memang besar dengan 255 juta penduduk. Ada sekitar 300 juta pengguna seluler. Lebih dari 100 juta akun di media sosial dan platform komunikasi sosial lainnya. Ini basis pasar bagi para technopreneur, yang kalau bukan kita pemenangnya, orang lain di luar yang akan mengambil.

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/ukm-perlu-transformasi-digital-ekonomi-kreatif/