ASEAN kini sudah berusia setengah abad. Banyak pengamat yang memuji asosiasi regional ini sebagai bangunan kerja sama yang solid dan mampu menjaga stabilitas kawasan. Setidaknya dibanding kawasan dunia lain yang penuh gejolak, Asia Tenggara tetap menjadi kawasan yang relatif bebas dari konflik terbuka. Hal ini menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan yang menjadi medan kontestasi kekuatan global untuk berebut pengaruh maupun dalam rangka membangun kemitraan strategis, khususnya dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Transformasi penting ASEAN setelah setengah abad berdiri adalah pendalaman dan perluasan kerja sama melalui pembentukan Komunitas ASEAN (ASEAN Community) tahun 2015 dengan sebuah spirit one vision, one identity, one community. Di tengah keraguan banyak pihak menyusul goyahnya format kerja sama Uni Eropa (UE) dengan isu Berxit tahun lalu, ASEAN dituntut untuk memastikan bahwa komunitas ini adalah sebuah proyek yang strategis, realistis dan memberi banyak keuntungan bagi masyarakat Asia Tenggara.

Lebih 600 Juta

Dari sisi demografis, kawasan Asia Tenggara saat ini menyangga lebih dari 600 juta jiwa. Jumlah itu bisa merupakan bonus, bisa juga merupakan tragedi demografis. Bisa menjadi bonus ketika Komunitas ASEAN mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang merata di semua negara. Sebaliknya ia akan menjadi tragedi demografis jika ketimpangan pembangunan masih terasa di satu sisi. Pada saat yang sama ASEAN masih melakukan pendekatan ad hoc dan ritualistik untuk mengantisipasinya.

Selain menjadi zona yang amat strategis bagi lalu-lintas perdagangan, Asia Tenggara juga menjadi zona yang amat rapuh dari sisi keamanan. Problem keamanan laut diprediksi akan menjadi tantangan keamanan yang harus dihadapi, mengingat sembilan dari sepuluh anggota ASEAN memiliki garis pantai dan batas teritorial yang perlu diamankan. Apalagi negaranegara tersebut juga memiliki kepentingan ekonomi terhadap wilayah perairannya, seperti aktivitas perikanan, bisnis pelabuhan, ataupun eksplorasi mineral dan kekayaan bawah laut lainnya. Kondisi ini semakin kompleks dengan meningkatnya persoalan dari wilayah perairan seperti klaim perbatasan antarnegara dan kejahatan transnasional lainnya.

Kasus-kasus penyanderaan yang terus berulang dan menimpa awak kapal Indonesia (dan Malaysia) di Perairan Sulu, Filipina, menjadi contoh nyata dari persoalan keamanan. Sampai saat ini hal itu masih belum mendapat kerangka penyelesaian regional secara komprehensif. Upaya mutakhir untuk mengatasi hal ini ,yakni pertemuan tiga Menteri Pertahanan dari Indonesia, Filipina dan Malaysia di Nusa Dua, Bali (CNN Indonesia, 2/8/16) nampaknya belum cukup memberi gambaran yang terang benderang. Terutama ihwal komitmen negara-negara di kawasan ASEAN untuk memberi proteksi kepada warga negara di kawasan ini.

Aspek berikutnya yang juga mendesak untuk direkonstruksi adalah prinsip yang seolah ‘suci’ di kawasan ini, yakni ‘tidak mencampuri urusan domestik’ (non interference principle). Sudah lama prinsip ini menjadi moralitas regional yang dipegang dalam berbagai pola penyelesaian konflik di ASEAN. Perlu ada keberanian ASEAN untuk mengkualifikasi ulang mana yang masuk kategori ‘mencampuri urusan domestik’ dan mana yang memang ditujukan untuk ‘menyelamatkan keamanan dan stabilitas regional’.

Regionalisme Multi-jalur

Kecenderungan membangun regionalisme satu jalur dimana peran negara masih amat dominan bagi upaya berbagai penyelesaian persoalan, nampaknya harus mulai ditinggalkan oleh ASEAN. Hal ini sejalan dengan makin beragamnya aktor baru yang lahir di luar negara yang bisa dijadikan mitra untuk menangani isuisu yang amat beragam dan kompleks. Sebagaimana ditulis Carolin Liss (2013), untuk menangani isu-isu yang bersifat non-tradisional, negara tidak bisa lagi menjadi aktor tunggal. Perlu melibatkan aktor lain seperti LSM (nongovernmental organizations), para pemikir dan peneliti di universitas bahkan kekuatan masyarakat sipil dari gerakan keagamaan. Dengan cara itu cita-cita ASEAN untuk membangun komunitas bersama tidak melulu hanya berdimensi tunggal dimana ekonomi menjadi fokus utama. Tetapi merefleksikan problem dan harapan yang berasal dari ruang sosial dan kultural yang dihadapi oleh masyarakat di kawasan Asia Tenggara sendiri.

Sumber : http://www.krjogja.com/web/news/read/23499/ASEAN_dan_Tantangan_Kerja_Sama_Regional