Pelabuhan Roll on Roll of (RoRo) di Kuala Tungkal segera berfungsi. Bentuk bangunan yang berada persis di Parit Tujuh sudah cukup layak. Itu menyusul sudah dilakukannya beberapa perbaikan dermaga.

Pengoperasian pelabuhan ini semakin dekat seiring uji coba yang dilakukan Oktober tahun lalu. Saat uji coba kapal pengangkut barang disandarkan di pelabuhan terbesar di Tanjab Barat tersebut. Pada saat uji coba, kapal sudah bisa bersandar dan mobil sudah bisa masuk ke badan kapal. “Sesuai jadwal jika tak ada aral melintang, Februari ini akan diresmikan oleh Kementerian Perhubungan,” ujar Kepala Badan Perencaan Pembangunan dan Penanam Modal (Bappemdal) Tanjabbar, Firdaus Khatab belum lama ini.‎

‎‎Pelabuhan RoRo dalam pengoperasionalannya menjadi pelabuhan kendaraan, barang dan penumpang. ‎Rute sementara yang diberikan Kemenhub, yakni Kuala Tungkal – Dabo Singkep. Namun jangka panjang, rute baru akan dibuka. Pemkab Tanjabbar bahkan sudah mengajukan surat permohonan pembukaan rute tambahan Kuala Tungkal – Batam.‎

“Karena kita sudah melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kepri soal penjualan komoditas pertanian ke Kepri, maka butuh rute Tungkal – Batam,” ulas Firdaus.‎‎ Soal pengelolaan RoRo, ‎ Kementerian Perhubungan mempercayakannya kepada Pemkab Tanjabbar. Firdaus bilang untuk itu pihaknya akan membentuk UPTD. “Kemarin sudah dilakukan Diklat untuk pegawai kita yang di Dishub, guna mempelajari sistem pengelolaan RoRo,” pungkas Firdaus.

Mengingat pelabuhan RoRo akan dilalui kendaraan berbadan besar, maka akan tidak efektif jika kendaraan melewati jalur dalam kota seperti saat ini.‎ Karena itu, tahun ini dibangun jalan lingkar, dari RoRo ke Parit IV, dengan jarak kurang lebih 20 kilometer. “Tahun ini kita bangun 13 jembatan sampai ke Sialang, kemudian termasuk pengera‎san jalan. Sumber dananya dari APBD dan APBN,” kata Firdaus.

Sejak 2002

Kilas awal pembangunan RoRo dimulai pada 2002, ketika Tanjab Barat dipimpin Usman Ermulan. Pembangunan dilakukan di atas tanah seluas sepuluh hektare. Proses pemanfaatan pelabuhan sempat tersendat, karena ada masalah non teknis berkaitan dengan hukum. Namun setelah permasalahan itu selesai, di periode keduanya, tahun 2011 Usman Ermulan meminta Kementerian Perhubungan segera memperbaiki infrastruktur pelabuhan tersebut. Gayung bersambut, usulan itu terlaksana, termasuk normalisasi alur Sungai Pengabuan pada 2014 sehingga bisa dilalui kapal besar.‎‎

‎Diwawancarai beberapa hari lalu, Usman Ermulan menceritakan bahwa konsep awal pembangunan, pelabuhan RoRo Kuala Tungkal merupakan gerbang utama Singapura, Johor, Malaysia dan Riau-Kepri. Atau disingkat Sijori.

Angaran Rp 10 miliar dari APBN, dan pelaksanaan teknis pembangunannya dikerjakan 100 persen oleh pusat. “Rencana awal, RoRo menjadi jalur Asean karena berhadapan dengan Sijori, yang tentu menjadi pintu ke seluruh wilayah Asean,” kata Usman Ermulan kepada Tribun. Terutama di Johor, ada Pelabuhan Pasir Gudang. Kalau nanti terbuka rute ke sana, maka peluang ekspor komoditas masyarakat Jambi sangat besar, terlebih di tengah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). ‎”Ini peluang yang sangat besar, kita melihat jarak paling dekat dari daratan Asia cuma Tungkal, dibanding Sumsel, Kota Jambi atau Riau,” tukas Usman.

‎Keberadaan RoRo mestinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh daerah yang ada di Provinsi Jambi, karena peluang perdagangan terbuka luas. “Intinya pelabuhan sudah siap, bisa untuk angkutan orang, barang dan kendaraan. Sekarang tinggal sejauh mana para kepala daerah melihat peluang yang ada,” urai Usman. Kalau Tanjab Barat, sejak awal lanjut Usman sudah melihat potensi yang ada, karena itu di masa kepimpinan periode kedua lalu, tepat tahun 2014, dilakukan kerjasama perdagangan dengan Kepulauan Riau. “Kerjasama sudah dibangun, dan saya melihat kerjasama itu diperkuat lagi oleh Bupati Tanjabbar saat ini, Pak Safrial,” pungkasnya.

Sumber : http://jambi.tribunnews.com/2017/02/02/pelabuhan-roro-kuala-tungkal-diharap-menjadi-jalur-perdagangan-asean