Bicara tentang pertanian dan perikanan, identik dengan kisah keprihatinan petani dan nelayan di Indonesia. Pertanian dan perikanan seringkali disebut-sebut sebagai kekayaan sumber daya alam melimpah di Nusantara yang bernilai ekonomi tinggi, sekaligus sumber ketahanan pangan bangsa. Itu merupakan sesuatu yang bukan rahasia di tataran ideal.

Namun, meski ada kisah sukses petani dan nelayan yang menjadi juragan, masih banyak pula cerita keprihatinan dan bahkan pilu yang mengiringinya. Meski, berbagai ikhtiar terus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan juga keperdulian akan nasib anak-anak bangsa yang menggeluti sektor itu.

Adalah kerja sama antara Badan Pangan Pertanian PBB (FAO) dengan pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pertanian. Sejak 2015, program bersama itu ditujukan bagi pengembangan program ‘mina padi’.

Secara umum, mina padi adalah teknik pertanian budi daya padi dan ikan yang telah lama dipraktikkan di Indonesia, bahkan di banyak tempat di Asia. Kerja bareng mulai menghidupkan kembali kearifan tradisional dalam pertanian melalui ‘Inovasi Mina Padi Berbasis Kluster’. Daerah yang dijadikan sasaran adalah Dusun Cibluk Kidul, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat, seluas 25 hektare di tiap lokasi.

Kepala Perwakilan FAO di Indonesia Mark Smulders mengatakan dikembangkannya program mina padi itu salah satunya adalah pertimbangan intensifikasi pertanian ‘modern’ yang banyak menggunakan pestisida. Akibatnya, membuat ikan dan hewan-hewan air tawar lain yang secara tradisional dapat menjaga kesuburan sawah mati, dan praktik-praktik itu secara lambat laun terlupakan.

Terkait itu, para pihak terkait pada Jumat (20/1), mengunjungi Dusun Cibluk Kidul, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta untuk melihat langsung program yang dikembangkan oleh petani pelaku mina padi di sawah percontohan. Parapihak itu di antaranya perwakilan Kemenko Kemaritiman Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu dan Teknologi, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin, Kemenko Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pertanian.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, pendekatan inovatif yang mengombinasikan kearifan tradisional dan teknik serta bahan tanam yang modern telah membawa tiga keuntungan (triple win) pada petani, kelompok petani dan keluarga mereka. Tiga keuntungan itu adalah naiknya produksi beras, naiknya pendapatan dan membaiknya nutrisi.

Sawah percontohan mina padi menghasilkan kenaikan panen padi dari rata-rata 6,5 juta ton/ha menjadi 9,3 ton/ha dengan kualitas padi yang lebih baik, sehingga petani dapat menjualnya sebagai ‘padi sehat’. Sedangkan penjualan ikan dapat mencapai sekitar Rp 42 juta per hektare dalam satu musim. Inovasi mina padi menggunakan ‘pendekatan ekosistem’ melalui nol pestisida, dan secara signifikan mengurangi level penggunaan pupuk kimia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sleman, pada 2014, konsumsi ikan rata-rata di Yogyakarta hanya 19,17 kg/kapita/tahun, atau terendah dibandingkan 33 provinsi lain dan hanya sekitar setengah dari dari konsumsi rata-rata nasional sebesar 37 kg/kapita. Namun, pada tahun 2015, konsumsi ikan di Sleman sampai 22, 29 kg, naik sampai 16 persen.

Mina padi dapat berkontribusi secara positif untuk menaikkan pasokan ikan, dan ketahanan pangan serta nutrisi masyarakat. “Jadi, amat menyenangkan untuk melihat bagaimana upaya mengenalkan mina padi yang dikombinasikan dengan teknik-teknik inovatif cukup baik hasilnya di Kabupaten Sleman,” kata Mark Smulders.

Ia menegaskan bahwa antusiasme dari petani telah membuktikan bahwa program itu telah berhasil, tidak hanya menaikkan pendapatan tetapi memelihara, bahkan menaikkan produksi beras. Serta, memberikan masyarakat lokal sumber makanan yang penting untuk gizi yang lebih baik.

Tujuan agrowisata
Keindahan alami dari sawah percontohan mina padi juga menghidupkan tujuan agrowisata. Industri baru ini telah merangsang kegiatan ekonomi, yang seringkali diawali dengan inisiatif para ibu dan anak-anak muda, memproduksi berbagai produk inovatif bergizi dari olahan ikan dari industri rumahan mereka. Selain itu, melalui program tersebut petani Indonesia juga membagi pengetahuannya ke seluruh dunia.

Inovasi teknik mina padi yang diperkenalkan oleh FAO dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, telah dibagikan ke wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya. Perwakilan dari 15 negara telah mengunjungi Kabupaten Sleman, dan ditambah banyak petani dari berbagai penjuru di Indonesia.

Dengan kisah sukses di Dusun Cibluk itu, kata Smulders, saat ini adalah saat yang tepat, agar pertanian mina padi dapat diperluas untuk memastikan semakin banyak keluarga petani meraih hidup yang lebih baik. Selain itu, juga menguntungkan kehidupan di perdesaan melalui aktivitas ekonomi yang bergairah, dan memperbaiki akses untuk memperoleh pangan yang bergizi.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/01/24/ok9qzu368-menengok-mina-padi-di-sleman-yang-jadi-percontohan-asia-pasifik