Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mempunyai peluang untuk masuk lebih besar ke pasar ekspor. Pasalnya, pada tahun ini beberapa analis memproyeksi pertumbuhan ekspor Indonesia akan membaik dibanding tahun lalu.

Potensi ekspor yang besar ini juga seiring pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana arus barang keluar masuk kawasan Asia Tengggara cukup bebas. Walaupun peluang dan kesempatan terbuka lebar, beberapa pelaku UKM belum banyak memanfaatkan ceruk pasar ini.

Berdasarkan catatan bank pemain mikro besar di Indonesia, misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, sampai Desember 2016 lalu, total volume perdagangan ekspor nasabah bank berkode BBRI ini tercatat sebesar US$ 9,8 miliar atau Rp 130 triliun.

Walaupun BRI merupakan pemain mikro, namun tidak semua ekspor yang dilakukan nasabah BRI tersebut sektor mikro. Tercatat hampir 90% ekspor ini dilakukan oleh nasabah ritel dan menengah.

Artinya, hanya sekitar 10% ekspor dilakukan oleh nasabah mikro BRI. Padahal jika dilihat mayoritas usaha di Indonesia bergerak di bidang mikro. Jika dilihat, ada beberapa faktor yang menyebabkan masih kurangnya pemain mikro masuk ke sektor ekspor.

Menurut Raden Ramdan Achmad Djauhari, Departemen Head Trade Marketing and Advisory BRI, beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya pemain mikro masuk ke sektor ekspor di antaranya adalah penguasaan teknologi dan bahasa.

“Dua kunci tersebut membuat pelaku UKM belum optimal mengakses pasar diluar negeri terutama ASEAN,” ujar Raden kepada KONTAN, (12/1).

Selain itu, menurut Raden, pelaku UKM juga masih agak takut dalam bersaing dengan pelaku UKM dari negara lain. Tiga hal inilah yang utamanya membuat pelaku UKM kurang bisa memanfaatkan pasar ekspor.

Padahal, lanjutnya, margin dari bisnis ekspor terbilang cukup besar yaitu antara 25% sampai 30%. Selama ini menurut Raden pelaku UKM tidak berani langsung masuk ke pasar ekspor melainkan menunggu pengepul mengumpulkan barang dahulu.

Sebagai gambaran saja, saat ini ada beberapa sektor yang masih prospektif untuk ekspor diantaranya adalah manufaktur tekstil, perikanan, bahan baku kertas, olahan sawit, dan kerajinan kreatif.

Untuk di beberapa daerah, potensinya bisa berbeda tergantung potensi sumber daya yang ada di masing masing wilayan. Misalnya, Bangka Belitung memiliki potensi produk ekspor terkait ikan segar dan olahan.

“Selain itu kaolin juga merupakan salah satu produk yang diminati untuk pasar ekspor di Belitung,” ujar Ramdan. Sebagai gambaran, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Bangka Belitung per November 2016 tercatat Timah merupakan penyumbang ekspor terbesar dengan proporsi 85% dari total ekspor Bangka Belitung.

 Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/01/13/kesempatan-ukm-merambah-ke-pasar-ekspor-hadapi-mea