Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mendorong pemanfaatan teknologi perikanan di daerah itu untuk mengejar target hilirisasi pada tahun 2017.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sumatera Selatan, Galamda Israk mengatakan sektor perikanan Sumsel masih lemah dalam pemanfaatan teknologi sehingga sebatas memproduksi ikan segar dari perairan tangkap. Sementara itu, hasil perikanan tangkap terbilang sudah cukup baik yakni sekitar 98 ribu ton/tahun sehingga sangat disayangkan jika minim produk turunannya.

“Selama ini sebatas dikonsumsi langsung. Jika pun ada hanya berubah sedikit, misalnya jadi ikan asap, nungget ikan, ikan asin, dan lainnya. Hingga kini belum ada suatu produk yang benar-benar memanfaatkan teknologi, sejauh ini baru pindang patin kaleng,” ungkapnya di Palembang, Selasa (1/11).

DKP Sumatera Selatan pun bekerja sama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah untuk meneliti beragam produk turunan ikan. Sejauh ini ia mengakui bahwa ikan patin dipandang cukup berpontensi, karena Sumsel memproduksi sekitar 250 ribu ton per tahun atau menjadi penyuplai kebutuhan nasional setelah beberapa provinsi di Kalimantan.

“Rencananya produk ikan patin kaleng ini yang akan menjadi produk hilirisasi perikanan Sumsel dengan target sudah menembus pasar nasional pada 2017,” lanjutnya.

Sumsel memiliki luas perikanan umum dan daratan terluas di Indonesia yakni mencapai 2,5 juta hektare, meliputi Sungai Musi beserta anak sungai, rawa, dan danau. Kemudian, luas perikanan ini belum ditambah dengan luas perikanan budidaya, seperti tambak dan kolam. 

Sementara, volume ekspor produk kelautan dan perikanan Sumsel mencapai 1,65 juta ton pada 2014, dan meningkat hingga 1,67 juta ton pada 2015. Sementara nilai ekspor mencapai 14,46 juta dolar pada 2015, dan meningkat menjadi 15 juta dolar Amerika pada 2016.

Sumber: http://news.kkp.go.id/index.php/sumsel-dorong-pemanfaatan-teknologi-kelautan/