Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menunjukkan daftar negatif investasi di sektor perikanan. Di daftar tersebut, asing hanya boleh masuk ke sektor pengolahan produk perikanan, sedangkan untuk sektor perikanan tangkap hanya terbuka untuk investasi lokal.

“Dulu 100 persen untuk PMA (Penanaman Modal Asing) bolehkan ikan di tangkap. Sekarang saya minta buka 100 persen untuk pengolahan. Namun perikanan tangkap khusus untuk dalam negeri saja. Bukan enggak boleh menangkap ikan, silakan asing masuk ke dalam investasi pengolahan, pemasaran, teknologi,shipyard yang non perikanan tangkap,” ujar Susi di rumah dinasnya, JL. Widya Chandra V, Jakarta, Kamis (4/8/2016).

“Ini adalah komitmen presiden yang sangat peduli. Perikanan itu bukan roket science, bukan tidak memerlukan teknologi canggih. Dengan kapal perahu bangsa Indonesia kami siap untuk tangkap ikan dan kami ingin kembalikan agar sesuai dengan keberlanjutan,” lanjut Susi.

Susi juga menceritakan masa kejayaan Indonesia saat dirinya menjadi pengusaha ikan di Pangandaran, Jawa Barat. Dalam sehari ia bisa mendapatkan 10 hingga 20 ton, lobster 3 sampai 4 ton. Bahkan, menurutnya bisa mengekspor dalam 3 hingga 4 bulan, yang terakhir kali ia ekspor pada tahun 2003.

“Setelah itu nggak ada lagi ekspor, sekarang lobster sudah ada lagi dalam 1,5 tahun terakhir. Paling utama penyebabnya adalah penangkapan ikan illegal fishing, masif,” kata Susi.

Kini setelah1,5 tahun proses pemulihan mulai terlihat. Susi menyebut, hasil tangkapan nelayan lebih banyak, nilai tangkapan dan nilai ekspor sudah naik dan menjadi nomor satu untuk tuna ekspor ke Jepang. Meski begitu ia berharap Indonesia menjadi produsen ikan nomor 3 di Asia, bukan nomor 3 di Asia Tenggara seperti saat ini.

“Angka ini didapat dari angka kekuatan domestik karena kita moratorium kapal asing menangkap ikan di Indonesia,” kata Susi.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2016/08/04/211244/3268853/4/susi-sektor-perikanan-tangkap-tertutup-untuk-asing