Urgensi terhadap perlindungan konservasi laut di Indonesia meningkat seiring dengan tingginya praktek open access yang menimbulkan kompetisi dalam menangkap ikan di antara nelayan kecil.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi menuturkan bahwa adanya kompetisi dalam menangkap ikan di antara nelayan kecil seiring dengan jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di wilayah pesisir mencapai 132 juta jiwa sehingga Indonesia menjadi produsen ikan hasil tangkapan terbesar ketiga di dunia.

“Maka 54 persen sumber protein masyarakat Indonesia kan bersumber dari laut. Indonesia juga memiliki jalur mangrove terbesar dan terumbu karang terluas kedua di dunia,” demikian kata Brahmantya Satyamurti Poerwadi Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta, Minggu(31/7).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa langkah penangkapan ikan ramah lingkungan oleh masyarakat lokal dan tradisional dilakukan di dalam zona perikanan berkelanjutan Kawasan Konservasi Perairan sesuai dengan peruntukannya.

1qa kepada masyarakat nelayan skala kecil yang berada di sekitar kawasan konservasi.

“Model ini sudah banyak dikembangkan di negara lain dan telah diketahui berkontribusi dalam menjamin ketahanan pangan, mempertahankan sumber mata pencaharian nelayan, dan memperbaiki kondisi sumber daya ikan,” demikian tukasnya.

Sumber: http://www.jitunews.com/read/42083/open-access-laut-penyebab-pentingnya-melindungi-daerah-konservasi