Pemerintah Indonesia menilai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) lebih solid ketimbang Uni Eropa, yang kini terancam pecah menyusul wacana keluarnya Inggris Raya dari keanggotaan.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menilai karakteristik dan keanggotaan MEA berbeda dengan UE. Keberadaan MEA relatif masih baru dan belum terlalu besar pengaruhnya terhadap perekonomian global, tidak seperti halnya dengan UE.

Karenanya, lanjut Bambang, sekalipun ada negara ASEAN yang keluar dari MEA, dampaknya tidak akan sebesar keluarnya Inggris dari UE atau yang lebih dikenal dengan istilah British Exit (Brexit).

“MEA sifatnya tidak mengikat seperti EU. Artinya justru kami masih dalam proses untuk memperkuat MEA itu sendiri,” tutur Bambang di kantornya, Rabu (23/6).

Menurut Bambang, Inggris merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbesar di Eropa. Tak ayal, isu Brexit membuat gejolak di sistem keuangan EU, baik di pasar keuangan maupun di pasar modal. Hal itu turut berimbas pada sistem keuangan global.

“Tentunya kami harapkan kalau (Brexit) itu terjadi sifatnya hanya sementara sampai adaequilibrium baru yaitu EU tanpa Inggris,” ujarnya.

Senada dengan Bambang, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Robert Pakpahan menilai keanggotaan ASEAN cukup solid. Selain itu, perekonomian Indonesia juga merupakan yang terbesar di kawasan ini.

“Kalau di ASEAN kayaknya kita cukup solid,” kata Robert secara terpisah.

Hari ini, Kamis (23/6), masyarakat Inggris Raya menggelar referendum guna menentukkan masa depan negaranya dalam organisasi antar-pemerintah dan supra-nasional Benua Biru itu. Inggris sendiri baru bergabung ke dalam Uni Eropa (UE) pada 1973, meski organisasi itu komunitas itu telah dirintis pembentukannya sejak 1957.

Saat ini, UE dengan jumlah penduduk mencapai 499 juta dari 27 negara anggotanya telah menjadi kekuatan utama ekonomi dan politik global. Dengan nominal Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 16,8 triliun Euro, UE saat ini menguasai 28 persen ekonomi dunia dan menjadi kekuatan dagang terbesar dengan penguasaan pangsa pasar ekspor-impor global sebesar  20 persen.

Indonesia, berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri, telah merintis kerjasama dengan UE sejak 1967, ketika masih berbentuk Masyarakat Ekonomi Eropa  (European Economic Community). Sejumlah kerangka kerjasama yang memayungi hubungan bilateral Indonesia dan UE antara lain Partnership Cooperation Agreement (PCA), Country Strategy Paper (CSP).

Bagi Indonesia, UE masih merupakan pasar penting dan salah satu sumber penanaman modal asing utama di Indonesia. Perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2010 mencapai US$28,2 miliar dan terus menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun.

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160623134306-92-140388/kemenkeu-mea-lebih-solid-ketimbang-uni-eropa/