Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini fokus untuk terus menurunkan harga pakan yang beredar di pasaran. Salah satunya, dengan menggenjot produksi pakan mandiri yang dilakukan masyarakat umum. Dengan cara tersebut, diharapkan kebutuhan pakan nasional tidak lagi hanya bergantung pada hasil produksi industri pakan nasional.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP Slamet Soebjakto, Rabu (01/6/2015). Menurut dia, kebutuhan pakan nasional saat ini masih bergantung pada hasil produksi industri pakan nasional. Namun, industri pakan nasional pun masih bergantung pada impor bahan baku.

“Akibatnya, harga pakan dari industri pakan nasional mahal. Ini yang sedang kita upayakan supaya harga pakan bisa terjangkau,” ungkap dia.

Slamet menjelaskan, karena harga yang masih tinggi, biaya produksi perikanan budidaya menjadi lebih mahal. Padahal, dari 100 persen biaya produksi budidaya, 70 persen itu dihabiskan untuk membeli pakan.

Karena itu, Slamet menilai, jika ingin perikanan budidaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka biaya produksi harus ditekan dengan cara menurunkan harga pakan yang beredar di pasaran. Namun, kata dia, untuk menurunkan harga pakan nasional itu juga bukan perkara yang gampang karena bergantung pada industri pakan nasional.

“Satu-satunya cara adalah dengan menggenjot produksi pakan mandiri. Tidak usaha muluk-muluk, jika bisa menurunkan 20 persen saja dari 70 persen biaya pakan, maka itu sudah sangat bagus,” tutur dia.

Untuk bisa menggenjot pakan mandiri, Slamet mengungkap, pihaknya kini mendorong setiap daerah untuk melakukan inovasi dengan potensi alam yang ada. Karena, antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia, potensinya berbeda-beda.

“Potensi yang ada itu misalnya kacang-kacangan, limbah kelapa sawit, limbah kelapa, daun-daunan, ataupun keong-keongan. Apa saja potensi yang ada di Indonesia akan kita manfaatkan untuk pakan mandiri,” sebut dia.

“Pokoknya, kita akan genjot terus. Karena, sekarang ini, bahan baku tepung ikan lokal juga sudah mulai banyak. Itu bagus untuk pakan mandiri,” tambah dia.

Budidaya Ikan Air Tawar

Untuk sementara, menurut Slamet Soebjakto, pemanfaatan pakan mandiri akan difokuskan untuk budidaya ikan air tawar. Hal itu, karena hingga saat ini konsumsi pakan untuk budidaya di air tawar masih lebih banyak dibandingkan dengan budidaya di air payau.

“Selain itu, harga jual ikan air tawar juga tidak terlalu tinggi. Jadi, biaya produksinya harus ditekan. Beda dengan air payau, udang saja bisa Rp100 ribu per kilo, sementara ikan air tawar hanya Rp12 ribu per kilo,” papar dia.

Karena fokus untuk air tawar, Slamet menyebut, pihaknya saat ini berusaha menggenjot produksi pakan mandiri untuk mengurangi suplai pakan dari industri pakan nasional. Kata dia, jika dalam tahun ini bisa mengurangi sebesar 1 persen saja, maka itu sudah sangat bagus.

“Sekarang ini keperluan pakan untuk budidaya ikan di air tawar bisa mencapa 200 ribuan kilo per tahun. Jika kita bisa mensuplai 1 persen saja dari pakan mandiri, itu prestasi tahun ini,” tandas dia.

Tiga Tantangan

Sementara itu Dekan Fakultan Ilmu Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Luky Adrianto menjelaskan, saat ini masih ada tiga masalah yang menghambat pengembangan pakan mandiri di seluruh Indonesia.

Tiga masalah tersebut, tutur dia, adalah masih belum adanya hasil identifikasi oleh akademisi terkait bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi pakan mandiri. Kemudian, jikapun sudah bisa teridentifikasi, masih belum diketahui bagaimana pasokan bahan baku tersebut untuk produksi pakan mandiri.

“Ketiga atau terakhir, adalah problem mekanisasi. Tidak mungkin mengolah bahan baku dengan tangan. Itu pasti memerlukan bantuan mesin, supaya pengolahannya masif. Dan itu hingga saat ini masih belum kita miliki,” ucap dia.

Akan tetapi, Luky mengatakan, tiga masalah yang masih dihadapi Indonesia tersebut, sejatinya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Utamanya, perguruan tinggi yang menyediakan perkuliahan ilmu perikanan dan kelautan.

“Pakan mandiri ini sangat bagus karena bisa mendorong ketahanan industri perikanan budidaya nasional. Hal itu, karena pakan mandiri ini dari sehi harga bisa 50 persen lebih murah dari harga di pasaran, tapi kualitasnya hanya berbeda tipis,” ucap dia.

Luky mencontohkan, jika pakan yang diproduksi perusahaan nasional kandungan proteinnya dalam jumlah satuan mencapai angka 10, maka untuk pakan mandiri jumlahnya mencapai 9. Perbedaan tipis tersebut, bagi dia, memberi kekuatan sekaligus keuntungan bagi pakan mandiri untuk bisa bersaing di pasar pakan nasional.

“Setiap daerah itu punya bahan baku lokal yang berkualitas. Tinggal bagaimana bisa mengidentifikasi dan kemudian memanfaatkannya. Contohnya, rumput laut, itu kanbanyak dan suka dibuang-buang. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan serat untuk pakan saja,” pungkas.

Dengan demikian, diharapkan ke depan, pakan mandiri bisa berkembang dan dicari oleh pembudidaya ikan nasional. Hal itu, berarti, secara bertahap, ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan bisa dikurangi.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2016/06/02/pakan-ikan-mandiri-potensial-gantikan-pakan-produksi-industri/