Usaha budidaya ikan saat ini sangat menjanjikan mengingat produksi dari perikanan tangkap terus menurun. Namun usaha ini menghadapi banyak kesulitan, antara lain mahalnya harga pakan ikan, sulit memperoleh benih berkualitas, keterbatasan lahan, keterbatasan modal usaha dan kurangnya pengetahuan pembudidaya dalam manajemen usaha.

Asisten Deputi Bidang Perikanan dan Peternakan, Kementerian Koperasi dan UKM, Devi Rimayanti mengatakan permasalahan yang dihadapi para pembudidaya ikan bisa diatasi dengan keberadaan koperasi.

“Sebaiknya para pembudidaya ikan air tawar dapat bergabung dalam suatu badan usaha yang memiliki legalitas hukum, seperti Koperasi. Saat ini usaha budidaya ikan air tawar dilakukan secara individu atau berkelompok yang tidak memiliki kekuatan secara hukum,” kata Devi dalam Temu Konsultasi di Bidang Perikanan Nasional, yang berlangsung 19 21 Mei di Yogyakarta.

Dia mengatakan peran Koperasi sangat penting karena dalam melaksanakan kegiatan ekonomi secara bersama-sama dapat menggalang kekuatan yang lebih besar dan diawasi secara demokratis oleh anggota. Dia mengharapkan pemerintah daerah membantu dan memfasilitasi terkait dalam hal pengembangan usaha budidaya ikan air tawar dan dapat membuat program terobosan terkait dengan budidaya ikan air tawar.

Devi menjelaskan Usaha budidaya ikan tawar terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya konsumsi ikan dunia maupun nasional. Menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikan tahun 2015 konsumsi ikan nasional sebesar 31,5 kg per kapita per tahun lebih rendah dibandingkan tingkat konsumsi ikan di Malaysia 55,4 kg per kapita per tahun. “Akan tetapi pertumbuhan rata-rata konsumsi ikan di Indinesia cukup tinggi yaitu 5,04 % per tahun, jauh di atas Malaysia hanya 1,26 % per tahun,” katanya.

Dari segi produksi pada 2011 produksi perikanan nasional mencapai mencapai 12,39 juta ton. Dari jumlah tersebut produksi perikanan tangkap sebanyak 5,41 juta ton dan produksi perikanan budidaya 6,98 juta ton, dimana produksi perikanan budidaya ijan air tawar menyumbang sekitar 1,1 juta ton, sisanya dari perikanan budidaya ikan laut dan payau.

Lebih dari 70% produksi ikan air tawar diserap oleh pasar dalam negeri, khususnya Pulau Jawa sebagai pangsa pasar terbesar mengingat jumlah penduduk yang padat.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Aris Riyanta Provinsi DI Yogyakarta mengatakan menghadapi daya saing produk saat ini, mau tidak mau suka tidak suka pelaku usaha dalam hal ini pembudidaya ikan air tawar selaku usaha mikro harus mau melakukan perubahan.

“Kita bersyukur Kementerian KUKM mengajak kita untuk mau melakukan perubahan tersebut melalui kegiatan seperti ini dan saya berharap para peserta temu konsultasi untuk sebanyak-banyak menggali ilmu dari para pakar/nara sumber yang ada agar permasalahan yang saudara-saudara hadapi dalam usaha budidaya ikan air tawar dapat teratasi,” kata Aris.

Sumber: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2297593/koperasi-bisa-atasi-masalah-petani-ikan-air-tawar