Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertemu dengan Ilya Shestakov, Kepala Badan Federal Perikanan Republik Federasi Rusia.

Pertemuan dilaksanakan pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 17.00 WIB di Hotel Radisson Paradise Sochi, Rusia. Pertemuan ini merupakan bagian dari keterlibatan Indonesia dalam KTT Asean Rusia yang berlangsung 19-20 Mei 2016.

Satu isu terpenting yang akan dibicarakan adalah pembukaan kembali Unit Pengolahan Ikan (UPI) Indonesia yang pada 2013 dibatalkan Rusia. UPI adalah lembaga pengekspor ikan yang semua produknya harus memenuhi standar sekuriti dan kesehatan negara tujuan.

Sebanyak 167 nomor registrasi UPI dibatalkan. “Alasannya, ikan Indonesia mengandung merkuri, logam berat, dan mikroorganisme patogen,” kata Muhammad Zulfikar Mochtar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Setahun kemudian, 15 UPI dibuka kembali dan diizinkan mengekspor ikan ke Rusia. Saat ini Indonesia ingin menambah sebelas UPI lagi.

Lewat pertemuan bilateral ini, pemerintah Indonesia ingin mengembalikan kinerja ekspornya yang melorot tajam. Pada 2013, ekspor ikan Indonesia sebesar US$ 44,4 juta. Setahun kemudian, jatuh menjadi US$ 7,6 juta. Pada 2015, ekspor ikan naik sedikit menjadi US$ 13,8 juta.

Dengan kesepakatan ini, Indonesia membuka pintu kepada pemerintah Rusia untuk melakukan inspeksi bersama guna mengecek kualitas ikan Indonesia.

Rusia menjadi pasar penting bagi produk perikanan Indonesia. Di kawasan Eropa Tengah dan Timur, Rusia merupakan pasar nomor satu. Rusia juga menjadi pintu masuk Indonesia untuk perdagangan ke negara-negara Euro Asia, yakni Belarus, Kazakstan, Armenia, dan Kirgistan.

Sumber: http://kabar24.bisnis.com/read/20160518/19/548963/ktt-asean-rusia-menteri-susi-bahas-ikan-indonesia-ditolak-rusia