Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengapresiasi inovasi teknologi minapadi, yakni budidaya ikan di area sawah yang ditanami padi. Menko Rizal menilai, inovasi minapadi merupakan terobosan di bidang perikanan budidaya yang mesti dikembangkan secara lebih massif. Pengembangan minapadi, sebut Rizal, bakal membantu meningkatkan kesejahteraan kaum pembudidaya ikan dan petani.

“Ini (minapadi-red) adalah contoh kombinasi antara perikanan dan pertanian. Minapadi akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita, dan juga meningkatkan hasil perikanan budidaya,” kata Menko Rizal Ramli kepada pers usai meninjau pameran Indonesian Aquaculture (INDOAQUA) di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (26/4).

Minapadi pada dasarnya adalah kolaborasi dua sektor, yakni pertanian dan perikanan, yang bisa dikatakan menganut prinsip simbiosis mutualisme antara tanaman padi dan ikan (bisa ikan mas, koi, udang galah, dan lainnya). “Jadi kalau tanam padi itu kan biasa, hasilnya bisa 5-7 ton per hektar. Tapi kalau tanam padi bareng sama ikan, itu tidak perlu beli pupuk. Pupuknya dari kotoran ikan. Hama-hama juga dimakan sama ikan. Tidak perlu pestisida,” terang Rizal Ramli.

Hasil yang diperoleh dari konsep minapadi ini, lanjut Menko Kemaritiman, bersifat ganda. Pertama, panen padi yang melimpah dan bersifat organik. Kedua, panen ikan yang menguntungkan. “Hasil ikannya lebih besar daripada nilai padinya. Saya minta Pak Dirjen (Direktur Jenderal Perikanan Budidaya-red) untuk mengembangkan minapadi di berbagai daerah untuk proyek percontohan,” ungkap Rizal yang dalam keterangan pers itu didampingi Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto.

Di mata Menko Rizal Ramli, sektor akuakultur menyajikan ruang eksperimen inovasi teknologi yang begitu luas. Minapadi hanya salah satu contoh dari inovasi tersebut. “Masih banyak ruang untuk berinovasi di perikaan budidaya. Kualitas harus dijaga. Karena Indonesia punya garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, kita punya potensi yang sangat besar di bidang akuakultur,” lanjutnya.

Acara Indonesian Aquaculture (INDOAQUA), Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (FITA), dan Asian Pacific Aquaculture (APA) 2016 diselenggarakan secara bersama-sama. “Ini pertemuan akuakultur terbesar di Indonesia. Ini event yang besar sekali. Ternyata Indonesia punya keunggulan. Produksi perikanan tangkap kita sekitar 6,5 juta ton. Produksi akuakultur hampir sama. Dan dalam beberapa produk seperti udang, rumput laut kita unggul. Kita akan menjadi nomor satu di dunia kalau kita kembangkan akuakultur ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Rizal Ramli mengatakan, pada sektor perikanan tangkap, produktivitasnya tidak bias digenjot secara jor-joran. Karena terkait stok ikan yang boleh ditangkap di laut serta kebijakan laut berkelanjutan yang diterapkan oleh pemerintah. Namun sebaliknya, untuk perikanan budidaya, produktivitasnya dapat didorong semaksimal mungkin.

“Kalau ikan tangkap tidak bisa jor-joran. Karena kita ingin mempertahankan sustainable ocean policy. Supaya ke depan anak cucu kita tetap bisa menikmatinya. Tetapi kalau akuakultur, kini produksinya sekitar 6,5 jutaan. Kita ingin Pak Dirjen dalam lima tahun ini bisa naik menjadi 5-10 juta ton,” seru Rizal Ramli yang langsung disanggupi oleh Slamet Soebjakto di sampingnya.

Menurut data yang dimiliki Rizal Ramli, dalam beberapa produk perikanan, Indonesia memiliki keunggulan dibandung negara-negara di dunia. Komoditas udang, kakap, rumput laut dan beberapa jenis produk perikanan sudah diakui oleh dunia.

“Dan hebatnya, Indonesia kebanyakan produknya tidak pakai anti biotik. Produknya aman, tidak mengandung bahan kimia berbahaya atau mencemari lingkungan. Sehingga di Uni Eropa, produk Indonesia diloloskan untuk ekspor ke sana. Biasanya dulu kalau mau ekspor udang, dulu, 20% dicek apa ada bahan beracunnya atau tidak, ada anti biotiknya apa tidak. Sekarang Indonesia sudah lolos. Ini luar biasa,” paparnya.

Guna semakin mendorong pengembangan sektor perikanan, Rizal Ramli mengatakan, pemerintah akan membuka 5 sampai 6 pelabuhan tambahan untuk ekspor ikan. “Kita akan buka pelabuhan tambahan ekspor ikan. Selama ini hanya boleh ekspor dari pelabuhan di Bali, Surabaya, dan Jakarta. Nanti akan ditambah 5-6 pelabuhan supaya nelayan kita bisa ekspor ikan dengan kualitas lebih bagus dan volume lebih tinggi karena peningkatan produksi,” urai Rizal.

Pemerintah, kata Rizal, juga semakin mendorong masyarakat untuk mengonsumsi ikan di tengah meningkatnya produktivitas nelayan pasca kebijakan moratorium izin penangkapan ikan dan kebijakan pemberantasan pencurian ikan. “Sekarang tangkapan ikan nelayan tradisional naik. Harga ikan jatuh. Kita dorong rakyat kita untuk lebih banyak makan ikan. Proteinnya tinggi, harganya pun murah,” tandasnya.

Sumber: http://www.neraca.co.id/article/68794/menko-kemaritiman-apresiasi-inovasi-teknologi-minapadi-pengembangan-akuakultur