Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot realisasi program bantuan 100 juta ekor benih ikan yang didistribusikan kepada masyarakat pembudidaya di seluruh Indonesia. Realisasi bantuan 100 juta benih ini ditargetkan rampung pada November 2016. Program tersenut dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat pembudidaya ikan agar lebih giat meningkatkan produksi.

“Saat ini realisasi bantuan benih ikan sudah hampir 22 juta ekor untuk seluruh Indonesia. Alokasinya merata di Jawa dan luar Jawa,” ujar Dirjen Slamet Soebjakto selepas acara Penyerahan Bantuan Benih Ikan dan Penebaran Ikan di Sungai Cibeuteung di Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Minggu (10/4).

Program 100 juta benih ini membuat posisi Balai Benih Ikan (BBI) menjadi semakin penting. Unit Pelaksana Teknis (UPT), baik yang di bawah naungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, juga semakin diandalkan untuk pengadaan benih dan induk. “Ke depan, UPT dan UPTD ini menjadi tulang punggung produksi benih ini,” tambah Toto—sapaan akrab Dirjen Slamet Soebjakto.

Sepanjang tahun 2016, target produksi perikanan budidaya mencapai 19,5 juta ton. Untuk 2017, targetnya sekitar 22 juta ton. Dari tahun ke tahun, menurut Dirjen, realisasi dan target produksi tersebut terus meningkat. “Di Kabupaten Bogor sendiri, produksi ikan naik begitu pesat. Produksi lele sangat bagus. Ini juga terkait penyerapan pasar yang juga bagus. Di Jabodetabek penyerapan produk perikaanan sangat bagus karena pertambahan penduduk yang pesat. Hal itu memotivasi produksi ikan,” ungkapnya.

Program bantuan benih dan induk ikan bagi para pembudidaya, sebagaimana disampaikan Slamet Soebjakto, merupakan instruksi langsung Menteri Kelautan dan Perikanan. Harapannya, uluran tangan pemerintah tersebut dipelihara sebaik-baiknya, agar keuntungan yang didapat bisa meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok dan masyarakat luas.

Dalam catatan DJPB KKP, Kabupaten Bogor merupakan kawasan minapolitan percontohan. Sehingga keberhasilan kabupaten di sebelah selatan Jakarta itu dalam mengelola bantuan dapat dicontoh daerah lain. “BBI di Bogor akan ditingkatkan tahun depan. Anggarannya akan ditambah,” kata Slamet.

Dalam kesempatan itu, Dirjen Toto juga menyinggung soal pentingnya menggenjot produktivitas pakan mandiri, dimana Gerpari (Gerakan Pakan Mandiri) yang dimanfestasikan melalui Pokanri (Kelompok Pakan Ikan Mandiri) merupakan salah satu program andalan DJPB KKP. Pokanri merupakan kelompok khusus produsen pakan yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) ini dibina oleh Satgas Pakan Mandiri yang dibentuk direktorat yang dia pimpin.

Gerpari dan Pokanri, kata Slamet Soebjakto, punya tujuan untuk menekan biaya pakan yang dikeluarkan pembudidaya dalam proses produksi. Kecuali itu, program kemandirian pakan ikan juga dimaksudkan untuk menekan impor bahan baku berupa tepung ikan yang volume dan nilainya sudah sangat besar. Keberadaan Pokanri bakal disinergikan dengan satu kelompok lagi, yaitu kelompok yang khusus memasok bahan baku pakan ikan.

Namun demikian, Slamet meyebut, program pakan mandiri tidak menjadi ancaman bagi industri pakan ikan. Justru sebaliknya, menurut Dirjen, program pakan mandiri bersinergi dengan sejumlah pengusaha pakan ikan. “Produksi ikan ini kan naik terus. Kita mengambil share kecil saja. Sehingga bisnis mereka masih bisa bergerak. Ini berkaitan dengan peningkatan produksi. Pakan yang kecil ini kan juga masih dari pabrik,” tandasnya.

Tidak seperti pakan pabrikan yang masih mengandalkan bahan baku impor, kemandirian pakan ikan yang digagas pemerintah ini lebih memanfaatkan bahan baku lokal, mengingat begitu beragamnya bahan pakan yang tumbuh di sekitar. “Masyarakat harus jeli memanfaatkan bahan baku lokal,” tegasnya.

Mengenai keluhan sebagian pembudidaya terkait bantuan mesin yang belum bisa menghasilkan pelet apung, Dirjen mengatakan, pihaknya memastikan produksi pelet yang dapat mengambang lebih kompleks ketimbang yang tenggelam.

“Setelah pelet tenggelam ini betul-betul dikuasai, ke depan baru pelet yang apung. Karena untuk mesin pelet apung itu listriknya juga lebih besar, mesinnya juga lebih complicated. Kalau kita berikan di satu tempat yang listriknya belum siap, malah mubazir nantinya. Itu bertahap akan ke sana,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Bogor, Siti Farikah, mengatakan, besarnya perhatian pemerintah pusat kepada sektor perikanan di daerahnya, termasuk bantuan 500 ribu benih untuk 20 kelompok dan bantuan induk untuk 6 kelompok yang direalisasikan pada kesempatan tersebut, dipastikan bakal membuat produksi kian meningkat. “Produksi lele naik 30% per tahun. Kabupaten Bogor memasok 12,99% kebutuhan lele secara nasional dengan produksi 613.109 ton,” ungkap Siti.

Kabupaten Bogor, kata Siti, merupakan kawasan minapolitan andalan di Indonesia. Kawasan perikanan budidaya paling utama di Kabupaten Bogor meliputi Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Parung, Kecamatan Gunung Sindur, dan Kecamatan Kemang. Setidaknya terdapat 8 zona pengembagan berbagai komoditas unggulan yang tersebar di Kabupaten Bogor dengan luas kawasan budidaya 2.592 hektar.

Sumber: http://www.neraca.co.id/article/67958/kkp-genjot-realisasi-program-100-juta-ekor-benih-ikan-perikanan-budidaya