Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado bersinergi dalam meningkatkan sektor perikanan dalam rangka implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Untuk meningkatkan kerjasama tersebut maka kami melakukan fokus grup diskusi (FGD) dalam meningkatkan daya saing sektor perikanan Sulawesi Utara (Sulut) dalam rangka implementasi MEA,” kata Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Prof Dr Ellen Kumaat saat FGD di Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsrat Manado, seperti dilansir Antara, Selasa (22/3/2016).

Ellen mengatakan, pasar bebas MEA dengan tujuan menjadi basis perekonomian sehingga peningkatan daya saing semua sektor akan ditingkatkan.

“Indonesia harus meningkatkan daya saing untuk merebut pasar ekspor baik di ASEAN hingga global, dan saat ini khususnya peningkatan daya saing sektor perikanan di Sulut,” jelasnya.

Menurut Ellen, kemampuan untuk meningkatkan daya saing kualitas, kontinuitas, harga dan standar perlu dipertahankan secara berkelanjutan dengan mementingkan lingkungannya. Dewasa ini, kata Ellen, pemberantasan “illegal fishing” mampu mengamankan sumber daya laut dan kualitas produk perikanan. Namun di sisi lain, juga menjaga ketahanan pangan dan mengentaskan kemiskinan. Tidak menutup mata, tingkat kemiskinan nelayan dan potensi laut serta bioteknologi kelautan masih lemah.

“Kami berharap semoga FGD ini untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan bisa terlaksana dengan baik,” imbuhnya.

Dipilih Unsrat menjadi lokasi FGD, katanya, sudah tepat karena untuk di Kawasan Indonesia Timur kualitas dan kuantitas di Fakultas Kelautan Perikanan Unsrat memiliki doktor sebanyak 92 orang, lulusan dalam dan luar negeri yang kebanyakan dari Jepang. Unsrat juga memiliki Guru Besar terbanyak yakni 21 orang.

Asisten Deputi Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub Regional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Netty Murhani mengatakan, kesiapan Indonesia menghadapi MEA sudah cukup baik namun masih harus ditingkatkan lagi.

“Daya saing harus ditopang juga faktor lainnya contoh gas, listrik dan logistik di Indonesia masih sangat mahal yang menghambat daya saing tersebut,” jelasnya.

Namun, katanya, pemerintah terus melakukan pembenahan sehingga daya saing akan meningkat. Netty menjelaskan, Indonesia terlebih khusus lagi Sulut sudah lama masuk ke pasar ASEAN namun mengapa Indonesia belum memiliki daya saing yang tinggi, karena pasar ekspor Indonesia sangat kecil ke ASEAN.

“Neraca Perdagangan Indonesia dengan ASEAN defisit karena pasar tradisional kita sebagian besar ke Eropa, Amerika,” katanya.

Dia berharap kegiatan ini akan merangsang semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan daya saing menghadapi MEA.

Sumber: http://news.okezone.com/read/2016/03/22/65/1342672/kemenko-perekonomian-unsrat-tingkatkan-sektor-perikanan