Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu ini merupakan lokasi bisnis terpadu untuk untuk memasarkan ikan hasil tangkapan nelayan.

SKPT dibangun di sejumlah wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Melalui sentra bisnis perikanan ini, ikan-ikan hasil tangkapan nelayan langsung diekspor ke negara tujuan.

Selain itu, melalui pembangunan SKPT ini, pemerintah membuka sentra-sentra ekspor hasil perikanan di wilayah perbatasan.

“Selama ini sentra ekspor selalu di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar. Kita mau membuka sentra-sentra ekspor dari pulau-pulau di perbatasan. Ini menanamkan rasa percaya diri kalau mereka bisa langsung ekspor dari daerahnya,” ujar Sekretaris Jenderal KKP, Sjarief Widjaja, di sela-sela Rapat Koordinasi di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Selasa (8/3/2016).

Sjarief mencontohkan, ekspor langsung misalnya bisa dilakukan dari Tahuna, ibukota Kabupaten Sangihe, ke kota Davao di Filipina. Dia menambahkan, agar berjalan lancar, maka kerja sama tersebut tentu saja butuh dukungan dari instansi lain, misalnya Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan Ham, serta Kementerian Perhubungan.

“Kita minta dukungan dari instansi lain, bea cukai, imigrasi, perhubungan udara, dan perhubungan laut,” kata Sjarief.

Sebagai informasi, SKPT dibangun di 15 wilayah perbatasan yaitu Simeulue, Natuna, Tahuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai. Kemudian, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Timika, Saumlaki, Kisar, Rote Ndao, dan Tual.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2016/03/08/155432/3160344/4/wilayah-perbatasan-ri-kini-jadi-sentra-ekspor-hasil-perikanan