Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Thomas Darmawan, mengatakan,para pengusaha perikanan di Indonesia telah siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang mulai berlangsung tahun 2016 ini. Menurutnya, MEA semestinya dilihat sebagai peluang untuk menggalang kekuatan bagi seluruh negara ASEAN untuk mendapatkan posisi tawar lebih bagus di pasar dunia khususnya untuk pasar produk perikanan. “Selama ini negara-negara Asean tidak punya posisi tawar yang kuat ketika menghadapi standarisasi yang diberlakukan oleh pasar-pasar besar seperti Eropa, Amerika dan Jepang, sehingga produk perikanan seperti udang dengan mudah kena dumping,” jelasnya

Thomas mencontohkan untuk produk udang, ASEAN merupakan kontributor terbesar untuk pasar dunia baik yang segar beku maupun olahan. Sekitar 60 % udang yang dipasok ke pasar dunia berasal dari Asia Tenggara. Indonesia sendiri berkontribusi 47 % untuk ekspor udang Asean ke pasar dunia. “Nah, dengan MEA berarti produk seperti udang beku ASEAN bisa dijual bersama dalam satu komunitas sehingga suara kita bisa membuat standarisasi ASEAN untuk produk perikanan kita,” ungkap Thomas.

Sejak tahun 2009 lalu, menurut Thomas, para pengusaha perikanan di kawasan ini sudah membentuk Asean Seafood Federation guna menghadapi MEA ini, “Jadi kalau ditanya apakah kami sudah siap? Ya kami sudah siap,” ujarnya.

Ke depan, asosiasi ini akan mengadakan pameran bergilir di sentara-sentra perikanan di Asean, tujuannya agar calon pembeli atau investor bisa melihat lebih dekat sumber ikan dan budidayanya. Selama ini pameran perikanan dipusatkan di Brussel, Belgia dan Boston, Amerika Serikat.

Tetapi, diakui Thomas, di balik peluang tetap ada tantangan yang harus dihadapi industri perikanan Indonesia. Pertama, soal produktivitas. Menurutnya, produktivitas Indonesia untuk produk-produk unggulan seperti udang dan ikan patin masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan sesama negara ASEAN seperti Vietnam dan Thailand. Saat ini produktivitas tambak udang di Indonesia baru mencapai 25 ton per hektar. “Ada banyak faktor yang membuat produktivitas kita kalah dibandingkan negara ASEAN lainnya,” ungkapnya. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah bibit, pakan, infrastruktur, akses modal perbankan, dan keamanan.

Untuk bibit, kelemahannya adalah Indonesia masih bergantung pada bibit impor khususnya udang Vietnam yang 100 % diimpor dari Amerika. Kemudian bahan baku pakan yakni tepung ikan pun harus diimpor. Ketiga, infrastruktur hal ini erat kaitannya dengan biaya produksi yang pada akhirnya memengaruhi nilai jual. Menurut Thomas, masih banyak sentra-sentra perikanan di Indonesia yang tidak didukung jalan yang baik sehingga biaya distribusi menjadi mahal.

Keempat adalah akses kredit usaha atau modal dari perbankan, hal ini juga masih terbilang sulit bagi petambak atau peternak ikan/udang karena menurut Thomas, bank masih melihat usaha budidaya perikanan beresiko tinggi. “Risiko besarnyanya adalah serangan penyakit yang bisa membuat gagal panen,” ujarnya. Selain itu bunga untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia 9 % tergolong masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Thailand yang hanya 5-6 %.

Terlepas dari masih banyaknya catatan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk membenahi industri perikanan di hulu, menurut Thomas, baiknya para pengusaha tetap fokus pada produksi produk bernilai tambah dari perikanan. “Untuk menghadapi persaingan di dalam ASEAN sendiri, kita harus fokus pada produksi produk olahan seperti tempura dan produk siap saji lainnya,” ujar Thomas.

Saat ini tercatat ada 750 perusahaan pengolahan produk perikanan baik perikanan tangkap maupun budidaya dan mampu menyerap tenaga kerja 1000 orang untuk setiap 2 ribu ton ikan yang akan diolah. Ekspor produk olahan ikan ini pun mmapu menyumbangkan devisa bagi negara mencapai US$ 4,6 miliar. (EVA)

Sumber: http://swa.co.id/business-strategy/management/thomas-darmawan-ketua-ap5i-mea-untuk-menguatkan-posisi-tawar-perikanan-asean