Produksi Ikan Kerapu 2017 Melompat

JAKARTA – Produksi ikan kerapu nasional pada 2017 melompat lebih dari empat kali lipat meskipun kebijakan kapal pengangkut ikan hidup diperketat sejak 2016.

Berdasarkan data sementara Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi kerapu sepanjang Januari-Oktober 2017 mencapai 46.504 ton, naik lebih dari 300% posisi 2016 yang hanya 11.504 ton.

Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan kenaikan produksi kerapu disebabkan oleh aktivitas budidaya yang kian menggeliat di sentra-sentra produksi sebagai dampak program revitalisasi keramba jaring apung (KJA), dukungan benih, dan prasarana produksi.

KKP tahun lalu merevitalisasi 250 unit KJA atau 1.000 lubang keramba yang tersebar di Kepulauan Riau, Lampung, Lombok, dan Kepulauan Seribu, dengan anggaran Rp12,5 miliar. Revitalisasi itu dilakukan dengan mengoperasikan kembali KJA yang mangkrak, menyediakan benih, pakan, dan pendampingan.

Slamet juga memaparkan jumlah kapal pengangkut ikan hidup telah pulih, bahkan bertambah menjadi 27 unit yang terdiri atas 13 kapal berbendera asing dan 13 kapal berbendera Indonesia. Sebelum Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 32/Permen-KP/2016 berlaku, jumlah kapal pengangkut ikan hidup pada 2015 sebanyak 21 unit.

Beleid itu membatasi bobot kapal pengangkut maksimum 500 ton, membatasi kapal pengangkut asing masuk ke Indonesia 12 kali dalam setahun, hanya boleh mengangkut ikan hidup dari 6 pelabuhan muat singgah, tidak boleh masuk ke kawasan-kawasan budidaya, dan hanya boleh mengangkut ikan dari satu pelabuhan muat singgah dalam satu kali perjalanan (trip).

“Jadi, kalau ada yang mengatakan Permen [Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan] pengangkutan ikan hidup menghambat ekspor kerapu, itu tidak benar,” katanya, Kamis (11/1/2018).

Namun, data sementara KKP pun menunjukkan volume ekspor kerapu selama Januari-September 2017 hanya 5.217 ton. Angka itu lebih rendah dari volume pengapalan sepanjang 2015 dan 2016 yang masing-masing 7.077 ton dan 7.668 ton. Pasar utama kerapu Indonesia adalah China dan Hong Kong.

“Tapi saya yakin, ekspor 2017 akan sedikit di atas 2016,” ujar Slamet.

Dari sisi nilai, ekspor kerapu merosot. Nilai ekspor selama Januari-September 2017 hannya US$28,9 juta atau masih jauh di bawah realisasi 2015 dan 2016 yang masing-masing mencapai US$33,6 juta dan US$41,5 juta.

Slamet menjelaskan pelemahan nilai ekspor itu terjadi karena terjadi pergeseran permintaan. Buyer cenderung membeli jenis kerapu yang murah, seperti kerapu macan dan cantang.

“Hong Kong dan China lesu ekonominya. Mereka tidak mau beli ikan yang mahal-mahal. Bahkan ada aturan pemerintah, enggak boleh makan ikan yang mahal-mahal. Kalau ketahuan, yang pegawai negeri dikeluarkan,” katanya.

 

Sumber : http://industri.bisnis.com/read/20180114/99/726346/javascript

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Leave a Comment

%d bloggers like this: